Tuesday, 24 January 2017

Terima Kasih Wiji Thukul :')

PUISI UNTUK ADIK




Apakah nasib kita akan terus seperti
sepeda rongsokan karatan itu?
o… tidak, dik!
kita akan terus melawan,
waktu yang bijak bestari
kan sudah mengajari kita,
bagaimana menghadapi derita,
kitalah yang akan memberi senyum
kepada masa depan,
jangan menyerahkan diri kepada ketakutan,
kita akan terus bergulat,
apakah nasib kita akan terus seperti
sepeda rongsokan karatan itu?
o… tidak, dik!
kita harus membaca lagi,
agar bisa menuliskan isi kepala,
dan memahami dunia.


Ini sungguh mengetuk jiwa. Membangkitkan hati yang seolah-olah mati dalam menghasilkan puisi. Kekurangan kata, malah ruh yang pantasnya ada dalam jiwa penulis! Aku baru tersedar. Setelah beberapa lama aku hanya menghasilkan kata-kata sebanyak dua atau tiga baris,aku sedar kini yang aku kehilangan mampu untuk menghasilkan kata-kata dari jiwa yang panjang-panjang.
Benar.
Aku harus membaca lagi agar boleh mengeluarkan kata-kata dari kepala. Sebenarnya banyak yang terkumpul dalam kepala tetapi seolah-olah kekurangan cara untuk meluahkan. Rasa bungkam. Rasa penuh tetapi susah benar memuntahkan.

No comments:

Post a Comment